Oleh: awaludinfajari | Februari 3, 2016

Bapak, Maafkan aku.

“Bangun sudah jam berapa ini, ayo mandi dan ambil wudhu, kita shalat berjamaah shubuh” bentak bapak sambil menggoyang-goyangkan badanku. Aku tidak bergeming, terus saja melanjutkan mimpi dan terus tertidur lelap, tidak lama kemudian bapak datang menghampiriku lagi dengan membawa segayung air, dan menciprat-cipratkan air ke wajahku, “Jika belum bangun juga, bapak siram” bentaknya lagi, sontak saja aku bangun, dan lari ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu karena kalau mandi mungkin tidak akan sempat berjamaah shubuh di mesjid.
Itulah suasana waktu shubuh di rumahku,aku dan kakaku selalu di tuntut untuk bangun shubuh, walaupun waktu libur sekolah, karena berjamah shubuh adalah suatu kewajiban, yang tidak boleh di tinggalkan. Bapak adalah seorang guru agama di sebuah Madrasah, beliau sangat galak dan disiplin dalam masalah shalat, mungkin karena latar belakangnya sebagai guru agama itu, mungkin takut di cap sebagai orang yang tidak bisa mengurus keluarga, dan hanya bisa menggurui orang lain saja. Saat bapak memerintahkan shalat pada kami, garangnya itu seperti garangnya seorang komandan ketika memerintah kepada prajuritnya, harus dilakukan saat itu juga, apapun aktifitas yang sedang kita kerjakan harus segera di tinggalkan, terkadang kami sering tertekan atau bahkan tertindas, bathin kami sedikit tidak menerima, karena salah satu hal yang tidak enak itu saat kita diperintah dengan nada marah.
Tetapi kami tidak bisa menolak apalagi memberontak, karena perintah bapak seperti titah raja yang harus segera dilaksanakan, karena kalau tidak, habislah kita di cacinya. Tetapi anehnya kalau masalah sekolah, bapak terasa cuek, dan terkesan membiarkan, tidak pernah bertanya bagaimana nilai yang kami peroleh, dan bahkan ketika bagi raport pun, hanya melihat nilai akhir dan lalu menandatanganinya, tidak pernah bertanya kenapa bisa begini, dan begitu, dari mana hasilnya dan siapa yang jadi juaranya. Tetapi bapak cuek itu bukan arti yang sebenarnya, ketika kami membutuhkan peralatan atau bahkan buku-buku pedoman mengeenai tugas-tugas sekolah, bapak selalu siap dan tak pernah hitung-hitungan untuk membelikannya. Dan bahkan ternyata menurut ibu bapak selalu memperhatikan kegiatan-kegiatan ku di sekolah, bahkan masalah nilaipun bapak sangat perhatian walaupun tidak secara langsung, dan yang paling mengejutkan ketika kami mulai pesantren bapak yang pertama kali menelepon dan bertanya tentang keadaan kami dan terkadang menangis ketika kami tidak bisa pulang pas liburan.
Bapak memiliki jiwa yang keras dan disiplin seperti militer, tetapi memilki hati yang sangat lembut, kini bapak sudah 8 tahun meninggalkan kami tetapi ilmu kedisiplinan dalam hal menjalankan ibadah shalat terus kami pegang teguh, Kami berharap suatu saat, di alam yang berbeda kami bisa bertemu dengan bapak agar bisa mengucapkan “Bapak maafkan aku”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: