Oleh: awaludinfajari | Juli 8, 2012

Aliran-Aliran dalam Bidang Hukum

1.   Madzhab Hanafi

Madzhab  hanafi adalah madzhab yang resmi yang dipakai oleh kerajaan utsmani dan pada zaman bani abbas di irak. Sekarang penganut madzhab itu banyak terdapat di Turki, Suria, Afganistan, Turkistan dan India.

Madzhab Hanafi didirikan oleh Abu Hanifah Al-Nu’man Ibnu Sabit berasal dari keturunan Persia dan Lahir di Kufah pada tahun 700 M dan meninggal pada tahun 767 M pada dinasti Bani Abbas (Abbasiyyah).

Dalam pendapat hukumnya Abu Hanifah dipengaruhi oleh perkembangan hukum yang terjadi di Kufah. Kufah terletak jauh dari Madinah. Di Kufah sunah itu tidak banyak dikenal berbeda dengan di Madinah yang banyak mengetahui sunah. Kufah adalah kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia. Kehidupan masyarakatnya sudah mencapai kemajuan yang lebih tinggi dari pada Madinah sehingga problem kemasyarakatan lebih banyak timbul dari pada di Madinah.

Kedua hal ini membawa kepada adanya perbedaan perkembangan hukum selanjutnya di kedua kota ini. Di Madinah  banyak mengetahui sunah, oleh karena itu sanggup menyelesaikan problem yang timbul dalam masyarakat yang masih bersifat sederhana. Di Kufah sunah tak banyak dikenal sedangkan problem kemasyarakatan banyak yang timbul sehingga untuk menyelesaikan masalah itu banyak dipakai pendapat (Al-Ra’y) serta Qias atau analogi dan Istihsan.

Dalam hal pemakaian sunah  sebagai sumber hukum Abu Hanifah bersikap sangat berhati-hati. Ia hanya memakai sunah yang diyakini, sunah orisinil dan bukan sunah buatan. Oleh karean itu mazhabnya dikenal dengan mazhab ahl al-ra’y.

Adapun sunah yang dapat dijadikan dalil oleh madzhab hanafi ini manakala :

  1. Diriwayatkan oleh jama’ah dari jama’ah (Mutawatir)
  2. Telah diamalkan oleh Fiqih yang kenamaan.
  3. Atau telah diriwayatkan oleh seorang sahabat di hadapan golongan dari sahabat, sedang tidak seorang pun dari kalangan mereka menyanggahnya. Hal mana berarti pembenaran/pengakuan mereka yang seolah-olah turut meriwayatkan hadits tersebut.
  4. Khabar ahad yang dirowikan oleh seorang dapat dipandang sebagai hujjah, jika rowinya seorang ahli fiqih
  5. Membuka pintu Qiyas seluas-luasnya.
  6. Memandang Istikhsan salah satu dalil yang mu’tabar sesudah kitabullah, sunnah rasul, ijma dan qiyas. Oleh karena itu abu hanifah membuat syarat-syarat yang berat tentang menerima riwayat hadits sebagai mana madzahibul ra’yi maka itulah sebabnya beliau membuka pintu qiyas secara luas.

2.    Madzhab Maliki

Madzhab Maliki adalah madzhab yang didirikian oleh Malik Ibnu Annas, ia dilahirkan di Madinah pada tahun 713 M dan berasal dari Yaman. Diberitakan bahwa ia tidak pernah meninggalkan kota ini kecuali untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Ia meninggal dunia di tahun 795 M. Keluarga Imam Malik  termasuk golongan perawai hadist, sehingga tidak mengherankan dalam pemikiran hukumnya banyak dipengaruhi oleh sunah. Ia belajar pada beberapa guru seperti Nafi’, Mawla ‘Abdullah Ibn Umar, Ibn Syihab Al-Zuhri dan Ibn Hurmuz. Majlis Ja’far Al Sadiq juga ia kunjungi.

Buku yang ditinggalkan Malik bernama Al-Muwatta suatu buku yang sekaligus merupakan buku hadist dan buku fikih. Hadist di atur di dalamnya sesuai dengan bidang-bidang yang terdapat dalam buku fikih.

Dalam pemikiranan hukumnya Imam Malik banyak berpegangan pada Sunah nabi dan sunnah sahabat. Dalam hal adanya perbedaan antara sunnah, ia berpegang pada tradisi yang berlaku di masyarakat Madinah, karena ia berpendapat bahwa tradisi ini banyak berasal dari sahabat, dan tradisi sahabat lebih kuat untuk dipakai seumber hukum. Kalau ia tidak memperoleh dasar hukum dalam Al-quran dan sunnah, ia memakai qias dan al-masalih al mursalah, yaitu maslahat umum.

Dari pemikiran hukum imam malik ini dapatlah diketahui sistim istimbath imam malik. Diantaranya yang tidak ditempuh oleh Mujtahid lain adalah sebagai berikut:

         1.    Sunnah

Syarat-syarat untuk menerima sunnah/Al-Hadits, imam malik tidak membuat syarat yang berat sebagaimana Imam Abu Hanifah.

Imam malik dapat menerima khabar ahad asal sanadnya shohih atau khasan walaupun berlawanan qiyas ataupun amala perbuatan rowinya. Syarat yang penting dalam menerima khabar Ahad itu tidak bertentangan dengan amalan penduduk Madinah. Juga yang merawikannya dari kalangan ulama hijaz.

       2.    Tradisi yang berlaku di masyarakat madinah

Imam malik memandang bahwa amalan penduduk Madinah dapat dijadikan hujjah, yakni dapat dijadikan dalil; malahan beliau mendahulukannya atas Qiyas dan khabar ahad karena menurut Imam Malik amal perbuatan ahli madinah menempati riwayat orang banyak (jama’ah) dari Rasulullah Saw. Sedang riwayat jama’ah dari jama’ah (mutawatir) lebih utama didahulukan daripada seorang dari seorang (khabar ahad).

Di atas pandangan inilah imam malik bahwa amal perbuatan penduduk madinah lebih kuat dari qiyas dan khabar Ahad.

Pandangan ini mendapat tantangan yang keras dari para mujtahidin terutma imam syafi’I dan Laits bin Saad dan Abu yusuf.

      3.    Qaul Shahaby (fatwa salah seorang sahabat)

Fatwa Shahaby yakni fatwa salah seorang Shabat kalau ternyata syah sanadnya, sedang shabat tersebut terkenal dari kalangan ‘Ulama shahabat dan fatwanya tidak bertentangan dengan sunnah rasul yang sholeh, maka imam Malik memandang bukan saja dapat dijadikan dalil malahan didahulukan atas Qiyas.

       4.    Al-masalih al mursalah

Yaitu sifat yang diduga akan membawa kemashalahatan. Sifat mana tidak ada ketegasan dari Nash untuk dianggap atau ditolak, yang olrh karenanya disamakan Al-masalih al mursalah.

Mazhab Maliki banyak dianut di Hijaz, Marokko, Tunis, Tripoli, Mesir Selatan, Sudan, Bahrain, dan Kuwait, yaitu di dunia Islam sebelah barat dan kurang di dunia islam sebelah timur.

        3.    Madzhab Syafi’i

     Madzhab Syafi’I didirikan oleh  Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’I, ia lahir di Ghazza di tahun 767 M dan berasal dari suku bangsa Quraisy. Setelah bapaknya meninggal dunia ia dibawa kembali ke tempat asal di Mekkah. Disini ia belajar pada Sufyan Ibn ‘Uyaynah dan Muslim Ibn Khalid. Selanjutnya pindah ke Medinah dan belajar pada Malik Ibn Anas sampai Imam  ini meninggal dunia.

       Al-Syafi’I dikenal meninggalkan dua bentuk madzhab, bentuk lama dan bentuk baru. Bentuk lama disusun di Baghdad dan terkandung dalam Al-Risalah, Al-Umm dan Al-mabsut. Bentuk abru disusun di Mesir dan di sini ia ubah sebagian dari pendapat-pendapat yang lama.

Dalam pemikiran hukumnya Al-Syafi’I berpegang pada lima sumber, Al-quran, sunnah nabi, ijma’ atau consensus, khabar ahad(sunnah sohikhah), Qiyas dan Istisjhab. Berlainan dengan Abu Hanifah, Al-Syafi’i banyak memakai sunnah sebagai sumber hukum, bahkan membuat sunnah  dekat sederajat dengan Al-quran. Istihsan yang dibawa Abu Hanifah dan al-masalih al mursalah yang ditimbulkan Malik, ditolak oleh Al-Syafi’I sebagai sumber hukum.

Sesudah kitabullah dan sunnah, Imam Syafi’I memandang bahwa ijma lebih utama dari pada khabar ahad.  Imam syafi’I mendahulukan khobar ahad atas qiyas, imam syafi’I memandang qiyas itu hujjah, tetapi dengan syarat-syarat berat.

Di atas pandangan imam syafi’I kiranya tidak ganjil jika beliau menolak istikhsan dan Al-masalih al mursalah sebagaimana beliau memandang Qoul shahabby (salah seorang sahabat) dan amal perbuatan penduduk madinah tidak dapat dijadikan hujjah.

Dalam pada itu, Al-Sayafi’ilah adalah ahli hukum  islam pertama yang menyusun ‘ilm usul al-fiqh,  ilmu tentang dasar-dasar hukum islam, sebagai terkandung dalam buku Al-Risalah.

Mazhab Syafi’I banyak dianut di daerah pedesan Mesir, Palestina, Suria, Lebanon, Irak, Hejaz, India,Indonesia, dan juga di Persia dan Yaman.

   4. Madzhab Hambali

       Madzhab Hambali didirikan oleh Ahmad ibn Hambal, ia lahir di Baghdad pada tahun 780 M. dan berasal dari keturunan Arab. Pada mulanya ia belajar hadits dan banyak mengadakan perjalanan tetapi kemudian ia belajar hokum juga. Diantara guru-gurunya terdapat Abu yusuf dan Al-syafi’I, ia meninggal dunia pada tahun 855 M di Baghdad.

Dalam pemikirannya hukumnya, Ahmad Ibn Hambal memakai lima sumber, Al-Quran, Sunnah, pendapat sahabat yang diketahui tidak mendapat tantangan dari sahabat lain, pendapat seseorang atau sahabat dengan syarat sesuai dengan Al-Quran serta sunnah, hadist mursal, dan qias  tetapi hanya dalam keadaan terpaksa.

Perbedaan Istimbath imam Akhmad bin Hambal dengan imam-imam lain diantaranya sebagai berikut :

  1. Dalam hadits, Imam Akhmad menitik beratkan kepada Shohih sanad tanpa memandang kepada banyak sedikitnya rawi. Diatas dasar ini imam Ahmad bin hambal menolak ijma yang erlawanan khabar ahad (sedang imam syfi’I sebaliknya).

Imam ahmad sependapat dengan imam-imam yang lain dalam menolak amal penduduk madinah yang berlawanan dengan khabar ahad (sedang imam Malik sebaliknya). Imam ahmad sependapat dengan imam-imam lain dalam menolak Qiyas yang berlawanan dengan khobar ahad (sedang abu hanifah sebaliknya). Tegasnya menurut imam ahmad apabila hadits itu telah tegas shohihnya walaupun ahad maka beliau tidak perlu menoleh pendapat lain.

  1. Fatwa para Sahabat Rasul

Kalau terdapat fatwa yang dikeluarkan oleh shahabat Rasul, sedang tidak diketahui ada tandingan pendapat lain, maka fatwa shahabat seperti ini walaupun imam ahmad tidak memandangnya ijma’, beliau lebih mengutamakan daripada qiyas. Kalau terdapat perselisihan fatwa kalangan shahabat, maka beliau memilih kepada fatwa yang lebih dekat kepada kitabullah sunnah Rasul.

  1. Imam ahmad bukan saja berpegang kepada hadits Mursal dan Dhoif, malahan mengutamakan atas Qiyas manakala tidak ada hadits sederajat atau ijma’ yang menolak Hadits mursal dan Hadits Dhoif tersebut. Yang dimaksud dhoif menurut Imam ahmad yang bukan hadits munkar dan bathil.
  2. Manakala tidak terdapat nash atau fatwa para shahabat, atau salah seorang dari shahabat, atau hadits mursal atau hadits dlo’if maka barulah imam Ahmad terpaksa berpegang kepada Qiyas.

Penganut mazhab Hambali terdapat di Irak, Mesir, Surai, Palestina, dan Arabia. Di Saudi Arabia mazhab ini merupakan mazhab resmi dari Negara. Di antara ke empat mazhab yang ada sekarang, mazhab Hambalilah yang paling kecil penganutnya.

 5.    Mazhab Al-Zahiri

Mazhab Al-Zahiri didirikan oleh Daud Ibn Ali Al-Asfahani (202-270 H). Sebagai telah dilihat Daud adalah  salah seorang dari murid Al-Syafi’I, tetapi kemudian membentuk mazhab tersendiri yang dikenal dengan nama Al-Zaihiri, Sesuai dengan namanya, prinsip dasar mazhab ini adalah memahami nash (Al-Qur’ an dan sunnah Nabi SAW) secara literal, selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan bahwa pengertian yang dimaksud dari suatu nash bukan makna literalnya. Apabila suatu masalah tidak dijumpai hukumnya dalam nash, maka mereka berpedoman pada ijma’. Ijma’ yang mereka terima adalah ijma’ seluruh ulama mujtahid pada suatu masa tertentu, sesuai dengan pengertian ijma’ yang dikemukakan ulama usul fiqh. Menurut Muhammad Yusuf Musa, pendapat az-Zahiri merupakan bahasa halus dalam menolak kehujahan ijma’, karena ijma’ seperti ini tidak mungkin terjadi seperti yang dikemukakan Imam asy-Syafi’i. Kemudian, mereka juga menolak qiyas, istihsan, al-maslahah al-mursalah dan metode istinbat lainnya yang didasarkan pada ra’yu (rasio semata):

Beberapa pendapat Ahlu Dhohiri yang bertentanagn dengan jumhur ‘ulama dan imam madzhab empat anatara lain :

  1. Membolehkan melihat anggota tubuh wanita waktu melamarnya.
  2. Isteri boleh bersedekah dengan harta suaminya.
  3. Tindakan Orang sakit yang membawa kematian sama dengan orang sehat.(tidak ada rukhsoh).
  4. Hakim boleh membatalkan wasiat seseorang yang dipandang merugikan suatu pihak.

Sekalipun para tokoh Mazhab az-Zahiri banyak menulis buku di bidang fiqh, mazhab ini tidak utuh karena pengikut fanatiknya tidak banyak. Akan tetapi, dalam literatur-literatur fiqh, pendapat mazhab ini sering dinukilkan ulama fiqh sebagai perbandingan antar mazhab. Mazhab ini pernah dianut oleh sebagian masyarakat Andalusia, Spanyol.

6.    Mazhab ja’fari

           Mazhab Ja’fari atau Mazhab Dua Belas Imam (Itsna ‘Asyariah) adalah mazhab dengan penganut yang terbesar dalam Muslim Syi’ah. Dinisbatkan kepada Imam ke 6, yaitu Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Keimaman kemudian berlanjut yaitu sampai Muhammad al-Mahdi binHasan al-Asykari bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzim bin Ja’far ash-Shadiq.

Dalam pandangan hukumnya mazhab ja’fari atau lebih dikenal dengan mazhab dua belas,  Al-qur’an dan sunnah merupakan sumber utama. Tetapi hadits yang mereka terima hanyalah hadits yang sanadnya kembali kepada ahli Bait. Qias, dalam pandangan satu golongan boleh dipakai. Tetapi dalam pandangan golongan lain tidak. Perbedaannya dengan mazhab-mazhab Ahli Sunnah juga tidak besar. Dalam mazhab ini kawin mut’ah masih dibolehkan. Imam yang terbesar dalam mazhab syi’ah ini adalah Ja’far Al-Sadiq (80-147 H). Mazhab ini menjadi mazhab resmi dari Negara Republik Islam Iran.

Daftar Pustaka

  1. Nasution, Harun.2002.Islam ditinjau dari berbagai aspeknya.jakarta:UI-Press.
  2. Hamdan Yusuf, Muhammad.1986.Perbandingan Madzhab. Semarang:Aksara Indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: