Oleh: awaludinfajari | Maret 10, 2012

Hidup serba kredit

“Mamang kenapa mau jadi tukang kredit?” kata doel

“Ach doel, mamang mah pengen ngasih kredit buat orang-orang yang ga kebagian kredit di Bank, kasihan doel ” kata mamang kredit

Masih ingat kah, itu salah satu obrolan si doel dengan mamang tukang kredit dalam sinetron si doel anak sekolahan.

Kredit barang rumah tangga menjadi salah satu kegiatan jual beli yang lumrah di perkampungan, disebabkan sebagian masyarakatnya masih tergolong dalam kondisi perekonomian yang rendah. harga barang yang dikreditkan biasanya harganya jauh lebih mahal, perbedaannya sekitar 20 sampai 30%,. Walaupun begitu tetap saja mereka menganggap kredit menjadi hal yang meringankan buat mereka, akhir-akhir ini pun kredit tidak hanya berupa barang rumah tangga saja seperti peralatan dapur dan pakaian. Barang elektronik pun sudah banyak yang dikreditkan bahkan motor, mobil rumah pun akhir-akhir ini menjadi sesutau tren baru dalam perkreditan tetapi mungkin jangkauannya tidak seluas dan sebanyak kredit barang rumah tangga.

Sudah cukup prolognya tentang kondisi perkreditian di masyarakat pedesaan kita. Sekarang cerintanya.

Waktu perjalanan pulang dari bandung ke subang, saya sempat berkenalan dengan seorang bapak-bapak, ya saya taksir sih usianya sekitar 45- 50 tahunan, soalnya anak pertama dia baru berusia 22 tahunan. Dari obrolan itu bapak itu  menjelaskan gambaran tentang perekonomian keluarganya , dia seorang pedagang sekaligus petani, dia mempunyai 3 rumah bagus, dua di kampung dan satunya lagi di kota, katanya yang di kota sebagai tempat persinggahan saja, ya semacam vila lah. Selanjutnya dia mempunyai sebuah mobil, 3 buah motor bebek dan sebidang sawah dan tanah seluas kira-kira 3 hektaran. Saya sempat kaget juga sama bapak ini, dia menceritakan semua hartanya pada saya seakan-akan mau nyombong.Hehehe buruk sangka, selanjutnya dia bertanya pada saya, “de tau dapat dari mana semua itu?”  “kalau ga dari warisan ya dapat dari hasil bapak dagang”   jawab saya, bapak itu menlanjutkan” itu semua bapak dapat dari hasil dagang, sebeblumnya bapak dan keluarga termasuk orang-orang menengah ke bawah, bapak penjual sayur keliling tetapi alhamdulillah karena ketekunan bapak, bapak akhirnya punya kios di pasar dan punya semuanya”. “loh koq bisa pak, bapak bisa punya harta segitu banyak, dari kios sayur-sayuran? ” potong saya,   “semuanya itu hasil bapak kredit, setiap hasil dagang bapak sisihkan setiap harinya buat cicilan motor, mobil rumah, bahkan sawah” sambil ketawa-ketawa bapak menjelaskan. Tetapi alhamdulillah semuanya sekarang sudah lunas, kalau ga begitu dan nunggu duitnya ngumpul dulu kapan kita bisa punyanya? Bapak melanjutkan, “kalau motor, rumah di kota mang masuk akal tetapi sawah dan dua rumah di kampung? Mang udah ada sekarang kredit sawah dan rumah di kampung? Lanjut saya bertanaya. Owh kalau itu sih gampang, kalau rumah mah mang ga ada itu semuanya hasil dari jualan semua, tetapi kalau sawah dan tanah itu ada, tetapi hanya orang-orang yang jual butuh saja, misal ada orang butuh duit 5 juta terus bapak paksain jual-jual barang-barang semisal emas buat dpnya itu, selanjutnya mah terserah bahkan 2 tahun baru selesai atau lunas.

Setealah panjang lebar menjelaskan asal usul hartanya satu persatu akhirnya bapak menjelaskan pesan yang terkandung di dalamnya, kadang manusia itu harus terpaksa dulu baru bisa dia berfikir, maksudnya buat diri kita sekritis mungkin sehingga kita ada kemauan untuk berjuang melepaskannya, semisal tadi bapak pengen beli mobil, kalau beli langsung itu serasa tidak mungkin, makanya bapak kredit dengan angsurana 5 juta perbulan, untuk memenuhi angsurann yang 5 juta itu bapak usahakan untuk lebih giat lagi berjualan bahkan yang biasanya berjualan malam saja, karena angsuran mah bisa siang malam, yang biasanya satu tempat saja karena angsuran mah bisa dua, tiga ditempat.

Owwwwhhhh…pikir saya dalam hati, seketika itu saya ingat pada sebuah buku The Power of Kepepet. Yang membuat hidupnya serba kepepet sehingga menjadi kreatif untuk menggapai segala impian dan kebutuhannya.

NB: SKS sistem kebut semalam atau sangkuriang mungkin bukti The Power of kepepet itu memang ada dan benar adanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: