Oleh: awaludinfajari | Agustus 22, 2011

Menentukan Cita-cita

Sebelum masuk SD, aku sudah punya cita-cita yaitu ingin jadi tukang traktor alasannya biar selalu bermain dengan lumpur dan dapat banyak belut, tetapi semua orang menertawakannya, cita-cita yang tidak bermutu katanya, tetapi pada waktu itu aku merasa cuek dan bangga dengan cita-citaku, setelah masuk SD cita-citaku mulai berubah aku ingin jadi seorang pilot, supir pesawat terbang alasannya biar tiap hari bisa terbang dan bisa jalan-jalan kemana saja yang aku mau, tidak lama kemudian cita-citaku itupun berubah lagi, kali ini aku ingin  menjadi seorang dokter biar bisa menolong orang  dan banyak duit, sampai aku masuk SMA citaku-citaku menjadi dokter selalu dipertahankan, tetapi malang tak bisa di kata untuk masuk ke fakultas kedokteran dibutuhkan dana yang tidak sedikit sedangkan aku termasuk ke dalam keluarga kelas menengah ke bawah, dengan berat hati cita-cita menjadi dokter pun ditanggalkan, tetapi tidak kecil hati dan tidak menyerah sebelum bertanding aku coba ikutan tes beasiswa ke fakultas kedokteran dengan hanya modal nekad walaupun akhirnya aku gagal, tetapi tak apalah yang penting sudah mencoba, hitung-hitung melepaskan rasa penasaran, dengan berat hati ku tentukan cita-cita terkhirku yaitu ingin menjadi seorang guru seperti bapak, yang selalu memberikan ilmu, mendidik anak-anak bangsa, dan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, yang selalu ikhlas dan penuh kejujuran dalam kehidupannya, pada waktu itu aku bertekad ingin menjadi sebenar-benarnya guru bagi anak didikku kelak, baik di sekolah maupun di luar sekolah, ingin benar-benar mengajarkan ilmu dengan ikhlas tanpa mengharap jasa dan imbalan, ingin ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ingin menjadi ki hajar dewantara di masa modern, tujuannya ingin mendedikasikan seluruh hidupku untuk kemajuan dunia pendidikan, ilmu pengetahuan ingin menjadi perhiasaanku yang tak pernah habis di berikan. Mungkin karena niatku ikhlas lillahitaala, Allah Swt mengabulkan doaku, aku di terima di salah satu universitas negeri jurusan pendidikan.

Empat tahun berselang, yaitu masa-masa kritis dan sulit  bagi mahasiswa S1, cita-cita tulus itupun kembali goyah, wirausaha menjadi penggodanya, enterpreuneurship menjadi pengganngu yang serius untuk cita-cita muliaku terdahulu, ingin rasanya menjadi wirausaha muda yang sukses yang mempunyai segalanya, mobil mewah, rumah mewah dan keluarga yang sejahtera agar kelak suatu saat apabila anak-anaku memiliki cita-cita tidak harus lagi terbentur dengan dana yang sangat mahal.

Ku mulai bimbang, sampai kebimbanganku memperlebar masa studyku di universitas, tetapi ku yakinkan saja, jadi seorang guru okey, jadi seorang wirausaha okey, dimanapun aku berkarir aku yakinkan tidak akan melepaskan cita-citaku menjadi seseorang yang berguna bagi nusa dan bangsa, baik itu sebagai wirausaha atau sebagai guru…aneh ya?…menentukan ciat-cita juga harus berubah-ubah disesuaikan dengan situasi dan kondisi…jangan ditiru kawan, pertahakan saja cita-citamu, apapun yang terjadi gapailah..terus perjuangkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: